Senin, 10 Oktober 2011

Suatu Ketika Juara Olimpiade Matematika Siswa Hafiz Qur'an


Siswa tekun mengerjakan soal di Fakhruddin Ar Razi Competition
Siswa tekun mengerjakan soal di Fakhruddin Ar Razi Competition

Sebuah terobosan langka dilakukan penggiat pendidikan Islam di Indonesia. Sabtu, 8/10, bertempat di STEKPI Kalibata, Majalah Gontor bekerjasama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) menggelar lomba matematika dan studi Islam bertajuk Fakhruddin Ar Razi Competition. Bisa dikatakan ini adalah kompetisi pertama di Indonesia bahkan di dunia yang menggabungkan studi Islam dan matematika.
Perlombaan ini pun diikuti antusias oleh para siswa. Tercatat tidak kurang dari 650 siswa SD, MI, SMP dan MTS siswa seluruh Jabotabek dan kota-kota ikut ambil bagian.

Asep Sobari, selaku redaktur Majalah Gontor, menyatakan bahwa acara ini dilaksanakan untuk menutupi kesenjangan antara dikotomi antara ilmu agama dan sains yang terjadi ditengah pendidikan di Indonesia. “Masalah pendidikan sekarang ini adalah dikotomi antara ilmu keduniaan dan ilmu agama. Padahal dalam sejarah Islam, kedua ilmu itu saling melengkapi.” Asep menjelaskan.
Sejak zaman Rasulullah dan Sahabat, kata Asep, output sebuah pendidikan selalu terintegrasi antara keduanya. Rasulullah demikian menitikberatkan penguasaan ilmu agama dan ilmu umum sebagai kompetensi seorang muslim. Maka itu, dengan acara ini, diharapkan para praktisi pendidikan dan siswa tergerak tidak menguasai ilmu agama disamping sains.
“Suatu ketika, kita berharap juara Olimpiade matematika Internasional adalah anak yang hafal qur’an. Dan ini adalah satu terobosan yang benar-benar baru. Anak-anak yang maju dalam sains tidak mustahil untuk menguasai tafsir,” tambah pakar Sirah yang juga alumni Universitas Islam Madinah ini.
Perihal dipilihnya matematika sebagai padanan untuk disandingkan dengan studi Islam, Adnin Pemimpin Redaksi Majalah Gontor, memiliki jawaban sendiri. Menurutnya, matematika memiliki peran strategis untuk kepentingan umat muslim. Bahkan ulama kenamaan Islam, Fakhruddin Ar-razi (1149-1210) menyatakan bahwa hukum mempelajari matematika adalah wajib.
“Fakhruddin Ar Razi mengatakan bahwa orang yang tidak tahu kiblat, hanya bisa yakin arah kiblat dengan bukti matematika. Sama halnya bagi Imam Ghazali yang mengatakan bahwa mempelajari matematika, kedokteran, fisika, dan ilmu-ilmu eksakta lainnya adalah fardhu kifayah,” terang kandidat Doktor Pemikiran Islam di ISTAC Malaysia ini di depan para orangtua murid.
Sosok Fakhruddin Ar Razi yang dijadikan nama kompetisi ini memang sangat langka. Ia tergolong ulama ensiklopedis. Selain menguasai ilmu tafsir, Ar Razi juga pakar dalam bidang fisika, hadis disamping penguasaan pada bidang astronomi.
“Untuk Surat Al Fatihah saja, ia menulis tafsir sebanyak 500 halaman. Namun disamping itu ia juga menguasai kedokteran, astronomi, fisika, dan matematika.” Kata Adnin yang mengambil thesis master mengenai ulama yang kerap berkeliling dunia untuk meluruskan pemikiran sesat kala itu.
Selain hafiz Qur’an dan ratusan ribu hadis, Fakhruddin Ar Razi juga menghafal kitab-kitab ulama kenamaan saat itu. “Aku diizinkan belajar ilmu kalam setelah menghafal 12.000 halaman.” Jelas Adnin membacakan tulisan Fakhruddin Ar Razi. “Dan itu bukan hanya satu buku, tapi ada tiga buku tentang hadis.” tukasnya. “Ia menghafal buku Imamul Haramayn al Juwayni, as Syamil fi Usuluddin. Dua buku usul fikih, yaitu Al Mustasfa karya Imam Ghazali, dan al Mu’tamad, karya Abul Husayn al-Basri.” Sambungnya. (Pz)
Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/suatu-ketika-juara-olimpiade-matematika-siswa-hafiz-qur-an.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar