Rabu, 26 Oktober 2011

Sebanding Pahala Haji


Setiap muslim pasti di dalam hatinya terpatri keinginan untuk beribadah haji ke Baitullah. Ibadah yang hanya berlangsung sekali setahun. Mereka yang sudah mengecapnya pun, masih antusias ingin mengulanginya di tahun-tahun berikutnya. Walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam, tidak jadi masalah asalkan keinginan itu tercapai. Bagi calon jamaah yang masuk daftar tunggu tahun-tahun berikutnya, harap-harap cemas. Mereka memperbanyak doa agar usia dipanjangkan dan dikaruniai kesehatan.
Bagaimana bagi mereka yang tidak mampu, apakah cukup hanya dengan mengelus dada seraya berdoa sambil menggantungkan harapan yang kemungkinan tak tercapai? Tidak harus demikian. Allah Ta’ala maha memberi motivasi dan Rasul-Nya pandai menghibur.

Sesungguhnya agama ini dibangun atas dasar kemudahan, tiada mempersulit dan tanpa paksaan bagi yang tidak berkemampuan. “Allah menginginkan bagimu kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan.” (QS Al Baqoroh 185) Allah memahami kadar kemampuan hamba-Nya, sehingga Ia tidak mewajibkan sesuatu melainkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
Islam sangat memahami keterbatasan atau udzur yang menimpa pemeluknya. Sehingga pada kondisi demikian, Islam membuka pintu seluas-luasnya beberapa “ibadah pelipur lara” melalui amalan tertentu sebagai pengganti untuk meraih pahala haji atau umrah. Tujuannya agar surga Allah itu bisa diwarisi oleh mereka yang beriman dan beramal shalih, apapun “kasta-nya”.
Setiap amal shalih dalam Islam, tidak akan luput dari catatan malaikat. Sehingga sekecil apapun bentuk amalan itu, tidak boleh diremehkan, apalagi bila menjadi alasan untuk tidak mengerjakannya. Nabi saw bersabda: “Janganlah engkau meremehkan sekecil apapun perbuatan baik itu, walaupun hanya dengan berwajah manis saat bertemu saudaramu.” (HR Muslim)
Allah amat mencintai hamba-hambanya yang begitu taat di tengah kondisinya yang tiada berkecukupan. Hidup mapan bukan jaminan keimanan. Sebab kemapanan tidak selalu beriringan dengan ketaatan, bahkan sering menjadi benalu. Sering menjadi faktor utama keengganan seseorang menghambakan diri kepada Tuhannya.
Al-Imam Ibnu Rajab, salah seorang ulama terkemuka mazhab Hanbali, dalam karyanya, Latho’if Al-ma’arif menukil beberapa amalan yang pahalanya sebanding atau selevel dengan ibadah haji atau umrah. Amalan-amalan tersebut beliau kutip dari hadits Nabi, atsar para sahabat, dan pendapat para tabi’in.
Pertama hadits nabi saw.  “Barangsiapa salat subuh berjamaah kemudian duduk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbit matahari lalu salat 2 rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umroh secara sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. Tirmizi, Hadis Hasan)
Bukankah setiap orang bisa mengupayakan solat subuh berjamaah terutama di masjid? Lalu setelah itu menyisihkan sedikit waktu dengan berzikir dan diakhiri dengan salat sunnah 2 rakaat saat mentari telah terbit. Tidak rumit bahkan sangat mudah. Berzikir di sini bisa dengan membaca Al Qur’an, bermuhasabah atau mendengar tausyiah. Bukankah itu semua adalah esensi dari zikrulloh?
Motivasi sekaligus hiburan Rasul saw di atas sengaja diperuntukkan bagi siapa saja, khususnya kaum fakir. Agar mereka tidak patah semangat dan putus harap. Semua orang bisa meraihnya tanpa terkecuali. Amalan ini bisa dilakukan sesering mungkin. Bahkan, setiap hari.
Dalam hadis ini, Rasul saw mengulang kata Tammatan (sempurna) sampai tiga kali. ini adalah indikasi bahwa targhib (anjuran) beliau  tidak main-main. Karena pahala Allah hanya diberikan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan tidak meremehkan amal sholih sekecil apapun itu. “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”(QS At Taubah 120)
Kedua, Menghadiri shalat jumat dari awal sampai akhir sebanyak empatpuluh kali shalat Jumat berturut-turut sama pahalanya dengan ibadah pahala haji sunnah.
Said bin Al-Musayyib berkata;” Ibadah jumat lebih saya sukai daripada menunaikan haji sunnah. Sesungguhnya Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam mensejajarkan yg bersegera datang menunaikan shalat jumat seperti orang yg berkurban di Baitullah”.
Dan dalam hadist dhaif disebutkan,” shalat jumat adalah ibadah haji bagi orang-orang miskin”.
Ketiga, keluar menuju masjid dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu dan shalat dhuha.
Abu Umamah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwa Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:” Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka pahalanya seperti pahala seorang haji dalam keadaan ihram. Dan barangsiapa yg menunaikan shalat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yg menunaikan ibadah umrah”.
Keempat, berbakti kepada kedua orangtua. Karena Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pernah berwasiat untuk berbakti kepada ibu, lalu beliau bersabda,” Kamu seperti orang yg menunaikan haji, menunaikan umrah, dan orang yg berjihad”.
Kelima, keluar menunaikan shalat hari raya Idul Fitri pahalanya seperti pahala ibadah umrah.
Seorang sahabat berkata, Keluar untuk menunaikan shalat hari raya Idul Firi pahalanya seperti pahala ibadah umrah, sedangkan shalat di hari raya Idul Adha pahalanya seperti pahala ibadah haji. Sungguh amalan yang pahalanya sangat menggiurkan, bukan?
Keenam, memenuhi kebutuhan saudaramu yang muslim ketika dalam kekurangan.
Ulama besar Hasan Al Basri berkata,” Memenuhi kebutuhan saudaramu yg muslim ketika dalam kesusahan pahalanya lebih baik daripada ibadah haji yg dilakukan berkali-kali”.
Uqbah bin Abdul Ghaffar berkata,” Shalat isya’ yg dilakukan dengan berjamaah di masjid pahalanya seperti pahala ibadah haji, dan shalat subuh yg ditunaikan dengan berjamaah di masjid pahalanya seperti pahala umrah”
Subhanallah betapa Allah SWT membuka pintu karunia seluas-luasnya. Hanya orang-orang yang diberi taufiklah yang tetap semangat mengejar karunia itu. Nah bagi siapapun yang kepincut naik haji, beberapa alternatif di atas kalau tidak seluruhnya dipraktikkan, maka sebaiknya kita upayakan sebagiannya. Kita meniatkan dengan melanggengkan amalan di atas, semoga akan membuka jalan kita semua menuju Baitullah. Insya Allah.
Habib Ziadi, S.PdI, Alumni Ma'had Aly An-Nu'aimy Jakarta, Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin Darul Muhibbin Nw Mispalah Praya Loteng

Sumber: http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/habib-ziadi-s-pdi-alumni-ma-had-aly-an-nu-aimy-jakarta-sebanding-pahala-haji.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar